Halo, namaku Alice. Aku punya sahabat bernama Mia. Mia itu cantik, cuma harus menerima kenyataan pahit. Mia memiliki kebutuhan khusus. Kaki kirinya patah dan sehari-hari menggunakan tongkat. Aku tetap senang bermain dnegannya meskipun tidak sempurna.
Dia itu pintar. Rangking 1 selalu dikelasku. Walaupun dia harus menerima kenyataan pahit itu, aku tetap senang bersmaanya. Dia juga baik. Temanku yang lain mengejeknya karena dia tidak sempurna. Meskipun begitu, ia tetap tabah. Mia tetap sabar meskipun diejek.
Suatu hari, Devi dan Arina menaruh lem dikursi Mia. Aku yang melihatnya cepat-cepat bertindak. Lem yang tadi menempel di kursi Mia aku pindahkan ke kursi Arina dan Devi.
Saat pelajaran dimulai, aku iseng-seng melempar penghapus agar tepat dibawah tempat duduk Arina dan Devi. Sukses! Aku akan menyuruh mereka mengambil penghapus itu. "Arina, Devi! Ambilin penghapusku, ya!" kataku ke mereka. Aku cekikikan dalam hati. Mereka mengambil dengan susahnya karena ada lem yang melekat di kursinya. Alhasil, roknya pun ikut melekat.
Ulah Devi dan Arina semakin membuat Mia terjebak. Mia akhirnya kujaga agar tidak terkena jebakan mereka berdua. Hingga suatu saat...
Aku dan Mia sedang berjalan di trotoar. Aku dan Mia melihat Devi dan Arina ditengah jalan sedang bercanda. Mereka tidak memerdulikan banyak mobil dan motor yang akan mengancam nyawa mereka. Tiba-tiba, dari kejauhan, mobil mengebut dengan kapasitas tinggi sehingga aku dan Mia langsung panik. "Awas! Arina, Devi, hati-hati!" teriak Mia lalu mendorong keduanya ke trotoar. Apa yang terjadi? Mia tertabrak mobil itu dan mengeluarkan banyak darah.
Unit Gawat Darurat...
"Miaa! Maafkan kami!" teriak Arina dan Devi smabil menangis. Ini semua salah mereka. Kenapa mereka menjebak Mia? Mereka merasa bersalah.
"Mia, maafkan kami." kata Arina mengulangi perkataanya tadi. Mia hanya tersenyum lemah. Mia pun mulai menutup mata. "Tidak apa..." perkataannya terputus karena dia sudah tak bernapas dan sudah menutup mata. "Inalilahi wainnalilahi rojiunnn.." ucap semuanya yang ada di UGD. Kami bertiga menangis mengingat Mia.
Sejak itu, Arina dan Devi berubah. Mereka akan selalu mengingat Mia yang penyabar, baik, dan raji itu.....
Halo, namaku Alice. Aku punya sahabat bernama Mia. Mia itu cantik, cuma harus menerima kenyataan pahit. Mia memiliki kebutuhan khusus. Kaki kirinya patah dan sehari-hari menggunakan tongkat. Aku tetap senang bermain dnegannya meskipun tidak sempurna.
Dia itu pintar. Rangking 1 selalu dikelasku. Walaupun dia harus menerima kenyataan pahit itu, aku tetap senang bersmaanya. Dia juga baik. Temanku yang lain mengejeknya karena dia tidak sempurna. Meskipun begitu, ia tetap tabah. Mia tetap sabar meskipun diejek.
Suatu hari, Devi dan Arina menaruh lem dikursi Mia. Aku yang melihatnya cepat-cepat bertindak. Lem yang tadi menempel di kursi Mia aku pindahkan ke kursi Arina dan Devi.
Saat pelajaran dimulai, aku iseng-seng melempar penghapus agar tepat dibawah tempat duduk Arina dan Devi. Sukses! Aku akan menyuruh mereka mengambil penghapus itu. "Arina, Devi! Ambilin penghapusku, ya!" kataku ke mereka. Aku cekikikan dalam hati. Mereka mengambil dengan susahnya karena ada lem yang melekat di kursinya. Alhasil, roknya pun ikut melekat.
Ulah Devi dan Arina semakin membuat Mia terjebak. Mia akhirnya kujaga agar tidak terkena jebakan mereka berdua. Hingga suatu saat...
Aku dan Mia sedang berjalan di trotoar. Aku dan Mia melihat Devi dan Arina ditengah jalan sedang bercanda. Mereka tidak memerdulikan banyak mobil dan motor yang akan mengancam nyawa mereka. Tiba-tiba, dari kejauhan, mobil mengebut dengan kapasitas tinggi sehingga aku dan Mia langsung panik. "Awas! Arina, Devi, hati-hati!" teriak Mia lalu mendorong keduanya ke trotoar. Apa yang terjadi? Mia tertabrak mobil itu dan mengeluarkan banyak darah.
Unit Gawat Darurat...
"Miaa! Maafkan kami!" teriak Arina dan Devi smabil menangis. Ini semua salah mereka. Kenapa mereka menjebak Mia? Mereka merasa bersalah.
"Mia, maafkan kami." kata Arina mengulangi perkataanya tadi. Mia hanya tersenyum lemah. Mia pun mulai menutup mata. "Tidak apa..." perkataannya terputus karena dia sudah tak bernapas dan sudah menutup mata. "Inalilahi wainnalilahi rojiunnn.." ucap semuanya yang ada di UGD. Kami bertiga menangis mengingat Mia.
Sejak itu, Arina dan Devi berubah. Mereka akan selalu mengingat Mia yang penyabar, baik, dan raji itu.....
Name : Savitri Nurudzaati Al-Kautsari & Haqqina Fayruzia Mahira Adela
Call Name : Sasya & Fira
Born : 25 June & 25 May
City : Semarang & Jakarta
Fav.Animal : Cat
Fav.Girlband : SNSD
Fav. Colour : Pink & Green
Bla : Blablabla
Posting Komentar